Saturday, June 15, 2019

Air mata Ubedilah Badrun meleleh.... Hehamahua Mengisi Dahaga Keteladanan Anak Muda

View Article

[PORTAL-ISLAM.ID]  Air mata Ubedilah Badrun meleleh....

Hehamahua Mengisi Dahaga Keteladanan Anak Muda

Oleh : Ubedilah Badrun
(Analis sosial politik UNJ Direktur Eksekutif Center for Social, Political, Economic and Law Studies)

Dua puluh tahun lalu lebih saya bertemu Abdullah Hehamahua, saya memanggilnya bang Dul. Saat itu saya masih mahasiswa. Pertemuan yang berlangsung di sekitar Tebet itu terjadi dalam suasana diskusi santai tapi masih membekas dalam nalar dan nurani saya. Banyak kisah keteladananya tentang integritasnya yang diceritakan banyak orang. Tentang tak mau menerima suap, tak mau menerima bayaran saat menjadi pembicara seminar jika diundang sebagai penasehat KPK, tak mau menggunakan fasilitas negara saat bepergian untuk kepentingan pribadinya, dll.

Sosoknya yang sederhana, pemikiranya yang bernas dengan perspektif Islam yang kuat, rasional dan maju telah menginspirasi saya untuk memilih jalan intelektual. Pemikiran Islamnya yang kuat tak menegasikan pemahaman kebangsaanya yang sangat menghargai keragaman. Bahwa ia sadar lahir dan besar di Republik yang ia cintai ini dengan segala keragamanya.

Waktu itu saya bertanya-tanya bagaimana implementasinya dalam kehidupan bang Dullah sehari-hari. Karena pertemuan yang singkat dan bang Dullah harus segera kembali ke Malaysia untuk waktu yang lama, saya hanya bisa merenung tentang sosok sederhana ini. Belakangan bang Dullah bercerita bahwa suatu ketika saat bang Dullah menjadi penasehat KPK rapat di bulan Ramadhan siang hari bang Dullah protes "saya tidak akan mulai rapat sebelum ada makan siang tersedia !". Nadanya agak keras dan semua yang hadir bingung dan memberi tau bahwa itu hari bulan puasa. Lalu bang Dullah mengatakan "saya berpuasa, tapi diantara peserta rapat disini ada yang beragama non Islam, sediakan makanan untuk mereka, baru saya akan mulai pimpin rapat!". Sontak staff KPK menyiapkanya dan berdecak kagum, luar biasa, suatu teladan toleransi seorang muslim, toleransi iya praktekan tanpa kehilangan ketaatanya pada agama.

Suatu malam setelah beredar surat terbukanya jelang sidang MK, saya bertemu beliau, ia bercerita.... "saya hanya mengikuti pikiran jernih dan suara hati saya, berdasarkan data-data yang saya miliki terkait politik, terkait kondisi sosial ekonomi, terkait kondisi anak muda, bahwa negeri ini kalau dibiarkan sedang mengarah pada kehancuran sistematis. Saya tidak mau terjebak oleh persoalan dua kubu dalam pilpres 2019. Saya teriris ketika terjadi ketidakjujuran, saya terluka ketika terjadi ketidakadilan, saya tergerak ketika terjadi kejahatan kemanusiaan, ketika ada anak remaja belia yang tertembak peluru tajam.....saya mengikhlaskan diri niat karena Allah turun kejalan untuk meluruskan negeri yang saya cintai ini....".

Diskusi singkat nan menyentuh itu membuat saya tak banyak tanya lagi, saya termenung sambil tak tahan meneteskan air mata....lalu berkata dalam hati.. "bang Dullah abang sudah berusia 70 tahun...saya bersaksi abang berhati bersih mencintai negeri ini dan mengkhawatirkan masa depannya... "

Terimakasih bang Dullah, telah mengisi dahaga anak muda yang rindu keteladanan.....

Jakarta, 14 Juni 2019

[Orasi Abdullah Hehamahua saat kawal Sidang Sengketa Pilpres di MK]

Ketika Seorang Suhu KPK Turun Gunung

View Article

[PORTAL-ISLAM.ID] Viral di medsos cerita tentang seorang mahasiswi miskin di Perancis yang ditolak oleh semua perusahaan ketika ia cari kerja. Mahasiswi ini smart, bahkan terlalu cerdas. Ia lulus dengan predikat cumlaude. Kenapa ditolak? Kenapa semua perusahaan tak menerimanya? Karena satu alasan: integritas.

Mahasiswi itu punya kebiasaan buruk ketika naik MRT. Gak mau bayar. Caranya? Ia otak atik kartu MRT, dan ia berhasil naik MRT tanpa bayar. Ia lakukan itu berulangkali. Bahkan ratusan kali. Ia merasa aman dan nyaman. Ia berpikir, sebagai mahasiswi miskin ia berhak menikmati MRT secara gratis. Dengan otaknya yang sedikit cerdas ia merasa bangga bisa melakukan itu. Mungkin ia pikir ini adalah anugerah.

Tidakkah ini persolan kecil? Remeh temeh? Tidak! Ini soal integritas! Ini soal moral! Ini soal kepercayaan! Jika menyangkut integritas, moral dan kepercayaan, ini besar pengaruhnya terhadap masyarakat, perusahaan, negara, atau apa saja yang mahasiswi itu ada di dalamnya. Ini adalah virus berbahaya yang hampir pasti akan menular, menebar kebusukan dan merusak segalanya. Termasuk merusak tatanan, norma dan etika.

Lalu, apa hubungannya dengan Abdullah Hehamahua? Beliau teringat mahasiswi itu ketika melihat carut marut moral politik di negeri ini sekarang. Dalam salah satu tulisannya beliau sempat bertanya: ‘Apakah DNA mahasiswi itu sama dengan yang dipunyai Menkes, Brimob dan presiden yang merasa bangga dapat menipu sistem yang ada demi mencapai ambisi pribadi? Lalu, kita harus terima presiden hasil kecurangan yang kedua kalinya?”

Kok kedua kali? Beliau meyakini bahwa 2014 telah terjadi kecurangan pemilu. Tentu, kalau seorang rektor dan ahli hukum seperti beliau yang bilang, pasti ada dasar dan datanya. Seorang mantan penasehat KPK dua setengan periode ini tak mungkin asal bicara. Apalagi, beliau dikenal masyarakat sebagai sosok yang jujur dan berintegritas tinggi.

2014 sudah dilupakan. Kenapa diulang di 2019? Apakah kecurangan kedua kali ini harus dilupakan juga? Tidak! Itulah kira-kira salah satu alasan mengapa cucu pahlawan Patimura ini harus turun gunung dan memimpin massa mengawal sidang di MK.

“He Abdullah Hehamahua, kamu salah seorang cucu Patimura, masihkah kamu berintegritas?” Sebuah bentuk instrospeksi Abdullah Hehamahua di dalam salah satu tulisannya.

Mungkin beliau tak ingin dianggap pengecut. Diam dan membiarkan negeri ini semakin tidak beres. Sementara beliau masih hidup. Diam terhadap kezaliman itu bukti tidak adanya integritas bagi anak bangsa. Mungkin itu yang diyakini beliau sebagai sesuatu yang prinsip.

Mantan penasehat KPK ini menegaskan bahwa demo di MK ini tak ada hubungannya dengan paslon. Beliau mengaku tak punya hubungan sama sekali dengan Prabowo-Sandi atau Jokowi-Ma’ruf. Ini murni soal integritas. Bahwa bangsa ini sudah tak punya komitmen hukum dan moral. Bangsa ini dikelola dengan penuh kecurangan. Kalau ini terus dibiarkan, atau merelakan pemimpin lahir dari hasil kecurangan, negara ini akan berjalan menuju kehancuran. Karena itu, harus diluruskan.

Beliau memilih tidak diam. Turun gunung, lalu pimpin massa untuk meneriakkan suara kebenaran itu. Tujuannya? Selamatkan bangsa ini dari tangan-tangan yang penuh dengan nafsu kekuasaan. Tidakkah ini yang diwariskan oleh para pahlawan dan pendiri negeri ini?

Beliau menulis: “Bahkan saya menghayal bagaimana nikmatnya Hasan Albana, Sayid Kutub, dan pahlawan dari kampung saya sendiri, Ahmad Lusi (Patimura) meninggal di tiang gantungan karena keteguhan melawan penguasa yang curang dan zalim.”

Di paragraf terakhir beliau menutup tulisannya dengan kalimat: “Ya Allah aku rindu menjumpaiMu sebagai seorang syuhada. Amiiin Yaa Robbal Aalamiin!”

Yang bisa dipetik dari tulisan Abdullah Hehamahua ini adalah spirit kebangsaan. Spirit nasionalisme dan semangat merah putih yang harus terus hidup di dalam jiwa rakyat Indonesia. Itulah jiwa para pahlawan yang diwariskan kepada anak cucu bangsa ini.

Jika seorang yang dikenal sebagai suhu KPK yang sudah berusia 70-an tahun ini masih punya semangat mendedikasikan diri untuk menyelamatkan bangsa dan negara, lalu turun gunung memimpin massa yang menyuarakan pentingnya moralitas berpolitik dan bernegara, bagaimana dengan anak-anak muda seperti anda? Terutama para mahasiswa yang beliau sangat prihatinkan keadaannya.

Jakarta, 15/6/2019.

Penulis: Tony Rosyid

Diatas Semua Itu Saya Adalah Seorang MUSLIM

View Article

Oleh: Fazel J. Haitamy*

Pertama sekali saya mondok tingkat MTs, saya belajar di Pesantren Muhammadiyah. Disana saya mengenal sosok KH. Ahmad Dahlan dengan konsep Islam revolusioner dan moderat sebagai sebuah konsep cemerlang yang membuat saya takjub dan bercita-cita untuk bisa menjadi seperti beliau.

Lalu saya melanjutkan tingkat Aliyah di sebuah Pesantren yang mengenalkan saya pada Manhaj Salaf. Disanalah saya jatuh cinta pada Syaikh Al-Albani, Syaikh Bin Baz dan Syaikh Al-Utsaimin. Bahkan saya mengukir tebal kata "الألباني" di rak kitab saya sebagai motivasi diri untuk menghafal hadits-hadits Nabi SAW.

Karena hasrat membaca saya tidak terbendung dan tidak puas dengan koleksi buku dan kitab yang ada di pustaka Pesantren, saya mulai sering minta izin keluar untuk membeli buku di toko-toko buku di luar Pesantren. Disanalah saya mulai mengenal berbagai bacaan "Haraki"; seperti An-Najah, Sabili dll.

Tidak butuh waktu lama, saya mulai jatuh cinta pada Dr. Abdullah Azzam, Syaikh Safar Al-Hawaly, Syaikh A'id Al-Qarni, Sayyid Qutub, Hassan Albanna, Syaikh Ahmad Yasin, Syaikh Usamah bin Ladin, Dr. Ayman Az-Zhawahiri, Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi, Syaikh Abu Qatadah Al-Filisthini dan banyak lainnya.

Saya mengkhatamkan seluruh jilid Tarbiyah Jihadiyah, Fii Dzilaali Suraah At-Taubah, dan karya-karya hebat Dr. Abdullah Azzam hanya dalam dua bulan (beliau adalah Doktor Azhari). Lalu saya lanjutkan bacaan saya ke karya-karya besar Sayyid Qutub, dan yang sangat menginspirasi saya adalah Ma'aalaim Fit Thariq.

Lalu saya menlanjutkan pendidikan Bahasa Arab dan keilmuan Syariat di sebuah Ma'had A'ly (Pesantren tingkat Universitas) yang baru dibangun oleh sebuah Yayasan Arab Saudi di Jawa Barat.

Para dosen dan Masyayikh yang mengajar hampir seluruhnya berpemahaman Salafi. Sekali lagi saya bersentuhan dan larut dalam suasana keilmuan Salafi, kali ini lebih kental.

Sebelum kembali ke Aceh, saya sempat menetap di Bandung. Di fase ini, saya sering berinteraksi dengan teman-teman dari Jama'ah Tabligh. Singkat cerita, mereka meminta saya menemani rombongan Jama'ah Tabligh dari Mesir untuk menerjemahkan ceramah Bahasa Arab ke dalam Bahasa Indonesia untuk sebuah Masjid di Bandung selama tiga hari. Saya iyakan, karena saya juga penasaran ingin langsung mengenal konsep Jama'ah Tabligh langsung dari da'i Arabnya.

Akhlak dan metode dakwah yang mereka terapkan membuat saya terpana. Di luar ceramah setelah shalat, kami langsung terjun berdakwah di dunia malam yang tidak tersentuh oleh da'i-da'i lain. Para da'i Mesir dan saya ditemani Jama'ah Tabligh lokal mendatangi pintu-pintu diskotik Bandung. Kami memberi salam kepada setiap yang kami temui di luar diskotik, baik laki-laki atau wanita walaupun si wanita itu setengah telanjang. Sebagian besar yang mendengar nasehat para da'i Mesir ini setelah saya bantu terjemahkan, ada yang jatuh tersungkur menangis, ada yang malu, ada yang berjanji untuk bertaubat.

Pengalaman luar biasa yang tidak akan bisa saya lupakan. Dari yang awalnya cuma berencana khuruj 3 hari, akhirnya saya ketagihan dan khuruj 40 hari bersama rombongan Mesir ini sampai ke Cirebon.

Saya melanjutkan kuliah Bahasa Inggris di sebuah Univeritas di Aceh. Sambil mengajar anak-anak di Masjid pada malam hari, pagi sampai sore saya aktif mengikuti perkuliahan di kampus. Di kampus saya mengenal dan masuk LDK (Lembaga Dakwah Kampus) yang sering dipelesetkan ke: Lari Dari Kekasih. hehe.

Di LDK, saya mulai ikut pengajian ustadz-ustadz PKS. Dan mulai mendalami konsep dakwah Ikhwani dari hasil bacaan dan diskusi. Saya terkagum-kagum melihat militansi dan manajemen dakwah PKS yang sangat rapi dan profesional.

Setelah menyelasaikan kuliah, saya belajar pada seorang Syaikh dari Aljazair yang menuntut ilmu di Mauritania. Dari beliau saya belajar Madzhab Syafi'i, Aqidah, Tasawuf, dan Sirah.

Cakrawala saya terbuka lebar. Saya merasa kecil dan semakin dahaga. Khazanah Islam ternyata sangat luas dan begitu dalam. Semakin diselami, semakin saya tersadarkan untuk tidak mudah momvonis atau menyalahkan. Saya sadar bahwa kadar diri saya hanya seorang penuntut ilmu bukan mufti pemutus fatwa.

Di Suriah saya telah melihat bagaimana Jihadi, Ikhwani, Tabhligi, Salafi, Sufi, dan bahkan Hizbut Tahrir bersatu dalam satu perjuangan membela umat dan tanah air. Meneriakkan kalimat yang sama Allahu Akbar! Mereka saling membasuh luka dan darah hingga menjadi syuhada dalam barisan dan tujuan perjuangan yang sama.

Kepentingan umat dan agama ternyata lebih besar dan lebih kuat dibandingkan perbedaan dan khilaf di antara kita.

Inilah saya, seorang Muhammadiyah, Salafi, Jihadi, Tablighi, Ikhwani, Sufi dan diatas semua itu saya adalah seorang MUSLIM.

*Sumber: fb penulis

8 Poin Gerakan Kedaulatan Rakyat by Hehamahua

View Article
[PORTAL-ISLAM.ID]  Negeri ini menangis. Pemilu yang seharusnya menjadi pesta demokrasi berubah jadi tragedi. Lebih dari 700 petugas KPPS meninggal. Belasan ribu sakit. Mulai dari sakit ringan hingga sakit berat. Delapan orang wafat ketika protes terhadap pemilu yang dianggap sarat kecurangan. Sebagian dari mereka yang mati adalah remaja. Dua orang diantaranya mati karena tertembak peluru tajam.

Sejumlah tokoh dan ulama yang kritis ditangkap dan dijadikan tersangka. Sebagian dituduh makar. Dijebloskan ke penjara dengan ancaman hukuman yang memberatkan. Pelanggaran yang sama tak berlaku bagi mereka yang mendukung penguasa. Disinilah keadilan patut diperjuangkan.

Banyak yang menyebut pemilu kali ini adalah yang terburuk di sepanjang sejarah demokrasi Indonesia. Paling curang dan paling brutal. Terjadi pelanggaran yang transparan dan telanjang.

Di sisi lain, penguasa yang diharapkan ikut bertanggungjawab untuk meredakan dan menstabilkan situasi tak kunjung hadir. Bahkan dicurigai ikut terlibat, atau setidaknya mendiamkan tragedi itu terjadi hingga berlarut-larut. Sebuah tragedi yang membuat suasana tegang dan bahkan mencekam bagi rakyat. Negara ini seolah kehilangan pemimpin yang bisa menjamin rasa aman bagi rakyatnya.

Penguasa cenderung lebih mengedepankan tindakan represif dari pada pendekatan persuasif. Absennya pemimpin membuat negara ini lalu dikendalikan oleh segelintir elit yang haus dan rakus kekuasaan.

Tragedi pemilu terjadi tanpa ada pihak yang merasa bertanggung jawab. Ini akan menjadi luka sejarah yang akan selalu diingat dalam memori bangsa Indonesia kedepan.

Proses pemilu belum berakhir. Tragedi Kemanusiaan yang telah merampas kedaulatan rakyat masih jadi trauma. Selain belum ada yang menyatakan bertanggung jawab terhadap kasus per kasus, mekanisme pemilu telah sampai di Mahkamah Konstitusi (MK). MK mesti keluar dari ruang normatif yang sempit. Artinya tidak hanya menjadi institusi yang sekedar bekerja untuk menghitung selisih suara yang disengketakan dalam pemilu. Tapi lebih dari itu, MK harus betul-betul menjadi institusi moral yang benar-benar memperhatikan dan mempertimbangkan nasib masa depan bangsa dan negara.

Di tangan MK nanti akan ada keputusan siapa yang akan dimenangkan dalam persidangan untuk selanjutnya dilantik secara konstitusional menjadi presiden. Disinilah peran krusial MK bagi masa depan bangsa, minimal lima tahun kedepan, bahkan berdampak pada tahun-tahun berikutnya. Apakah presiden hasil keputusan MK itu akan membawa Indonesia keluar dari problem bangsa, atau justru membuat negara ini makin terpuruk?

Di tangan sembilan hakim di MK, masa depan demokrasi, kedaulatan rakyat dan moralitas bernegara akan ditentukan. Nasib rakyat dan negara ini kedepan akan sangat bergantung kepada keputusan MK.

Apakah MK akan menambah tragedi baru dengan keputusan yang tidak jujur dan tidak adil? Apakah MK akan membuat keputusan sesuai kepentingan sepihak, atau hasil intervensi dan intimidasi? Jika itu terjadi, maka tidak saja kredibilitas MK yang semakin buruk, tapi lebih dari itu, keputusan MK akan membuat rakyat akan semakin putus asa karena tak lagi menemukan keadilan hukum dan politik di negeri ini. Rakyat merasa kedaulatannya secara sistematis telah dirampok oleh hampir semua institusi yang seharusnya menjadi penjaga keadilan hukum dan merawat demokrasi di negeri ini.

Karena itu, kami atas nama Gerakan Kedaulatan Rakyat (GKR) yang merepresentasikan kegelisahan, bahkan ketakutan rakyat:

1. Mengajak seluruh rakyat Indonesia yang masih peduli kepada nasib bangsa dan memiliki hati nurani untuk bersama-sama memperjuangkan tegaknya keadilan, kedaulatan dan hak demokrasi rakyat demi keutuhan NKRI dan moralitas bangsa di masa depan. Ikut mengawal sidang. MK mulai hari ini tanggal 14 Juni hingga tanggal 28 Juni 2019.

2. Meminta kepada pihak yang sedang diberi amanah kekuasaan, khususnya pihak keamanan, memberi ruang bagi rakyat untuk berdaulat atas hak-haknya yang dijamin oleh konstitusi, termasuk hak untuk menyampaikan pendapat dan hak memperjuangkan hak suaranya yang hilang saat pemilu.

3. Meminta kepada semua pihak, terutama penguasa dan para elit di negeri ini untuk tidak melakukan intervensi dan intimidasi kepada para hakim di MK.

4. Meminta kepada para hakim Mahkamah Konstitusi (MK) untuk bersidang secara profesional dan proporsional mengacu pada fakta-fakta hukum yang ada dan mempertimbangkan aspek moral serta nasib bangsa kedepan.

5. Meminta pada para hakim Mahkamah Konstitusi (MK) untuk tetap independen, jujur, adil dan bebas dari kepentingan maupun intervensi dari pihak manapun dalam mensidangkan kasus sengketa pemilu.

6. MK dalam mengambil keputusan diharapkan tidak hanya mempertimbangkan angka-angka perolehan suara paslon, tapi seharusnya juga mempertimbangkan secara serius pelanggaran hukum, aspek moral dan tragedi kemanusiaan yang terjadi jelang, saat dan pasca pemilu.

7. Pelanggaran hukum, aspek moral dan tragedi kemanusiaan yang terjadi jika diabaikan dalam pertimbangan bagi putusan MK, maka berpotensi akan melahirkan situasi yang semakin buruk di negeri ini.

8. Saat ini, MK menjadi satu-satunya pintu harapan terakhir bagi rakyat untuk mengembalikan optimisme dalam berdemokrasi, bahkan berbangsa dan bernegara. Di tangan MK nasib masa depan bangsa dan negara ini akan ditentukan baik buruknya. Dan kami berharap MK tidak salah dalam membuat keputusan. Karena keputusan MK yang salah akan bisa mengakibatkan hilangnya kedaulatan rakyat, lenyapnya demokrasi, lahirnya tirani di negeri ini dan disintegrasi bangsa.

Jakarta, 14 Juni 2019

Penulis: Dr. Abdullah Hehamahua (Korlap)

KPU Ngeles Kesulitan Tiket Pesawat, Warganet Tunjukan BUKTI Masih Banyak Tiket Tersedia!

View Article

[PORTAL-ISLAM.ID]  Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman meminta majelis hakim Mahkamah Konstitusi memperpanjang tenggat waktu perbaikan jawaban atas permohonan sengketa hasil pemilihan presiden 2019 yang diajukan kuasa hukum Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Permintaan ini disampaikan saat sidang perdana sengketa hasil pilpres 2019 di MK yang digelar Jumat, 14 Juni 2019.

Awalnya KPU sebagai termohon diberi waktu hingga Senin, 17 Juni 2019, untuk menyampaikan perbaikan jawaban atas permohonan.

Namun KPU meminta diundur. Ketua KPU beralasan soal susahnya memesan tiket pesawat pekan ini.

"Artinya kan tersisa Sabtu Minggu. Saya menduga agak susah mencari transportasi untuk ke Jakarta. Kalau Senin rasa-rasanya kami agak kesulitan," ucapnya.

Alasan KPU susahnya tiket pesawat menjadi sorotan warganet.

Bahkan diantara warganet langsung memberi bukti tiket ke Jakarta masih banyak tersedia.

"Bagi yang kemarin bilang hari Sabtu & Minggu kesulitan cari tiket Surabaya-Jakarta. Ini saya cek masih banyaaaak tersedia. 😅," kata Syahril Aditya Ginanjar di akun fbnya sembari melampirkan daftar tiket yang masih tersedia.

"Bukan sulit cari tiket .... tapi sulit cari niat baik ...," komen Widiari.


Kongres PDIP di Bali Sudah Fix, Ini Calon Pengganti Megawati

View Article

[PORTAL-ISLAM.ID]  Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) akan mempercepat pelaksanaan kongres V yang sedianya dilaksanakan 2020.

Tapi hal tersebut juga sudah dibenarkan oleh Ketua DPP PDIP, Hendrawan Supratikno. Lagi-lagi untuk kesekian kalinya kongres PDIP akan diadakan di Bali pada Agustus 2019.

“Betul. Rencana 8-10 Agustus di Bali. Info lanjut bisa ditanyakan kepada Sekjen,” ujar Hendrawan kepada wartawan.

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan, salah satu agenda penting Kongres PDIP yakni membahas pergantian ketua umum partai.

Hasto mengaku, persiapan kongres tengah berjalan. Namun, sebelum melaksanakan kongres, partainya terlebih dahulu melaksanakan rapat kerja nasional (Rakernas).

“Surat undangan Rakernas sudah kita sebar dan dijadwalkan dilakukan pada 19 Juni ini. Surat itu ditandatangani oleh Prananda Prabowo selaku ketua dan saya selaku Sekjen,” tuntasnya.

Salah satu kandidat kuat pengganti Megawati Soekarno Putri sebagai Ketua Umum PDIP yakni putranya, Prananda Prabowo.

Selain Prananda, putri Megawati, Puan Maharani juga digadang-gadang sebagai calon Ketum PDIP. Saat ini, Puan menjabat Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Namun kabar yang beredar, Puan juga didorong untuk menduduki jabatan Ketua DPR RI.

PDIP Bali Belum Tahu

Wakil Ketua DPD PDIP Bali Bidang Pemenangan Pemilu, IGN Kesuma Kelakan bahwa belum ada pemberitahuan resmi dari DPP terkait kongres PDIP di Bali.

Secara tersirat diakui memang ada informasi seperti itu. Namun, pihaknya masih menunggu pemberitahuan DPP partai berlambang banteng moncong putih itu.

“Dari perintah secara tertulis belum ada. Nah, ini masih belum ini jadi kita masih menunggu dari DPP biar pasti. Dulu di Bali sudah hampir kongres awal, ya kayaknya tiga atau empat kali sepertinya,” ucapnya.

Seperti diketahui, setiap kongres PDIP selalu diadakan di Pulau Dewata. Menyinggung hal tersebut, pria yang akrab dipanggil Alit Kelakan ini mengaku ada dua pertimbangan.

Pertama masalah teknis. Jadi, di Bali mudah akses transportasi dan akomodasi.

“Untuk melakukan ketersediaan tempat-tempat pertemuan kualifikasi standar nasional maupun internasional. Karena itu secara teknis lebih gampang mengelola ketersediaan fasilitas hotel karena seluruh Indonesia,” terang pria yang juga menjabat Ketua PA GMNI Bali ini.

Sementara itu, alasan kedua, Bali menjadi tempat bersejarah karena pernah dilaksanakan Kongres rakyat pernah diadakan di Bali, perubahan nama PDI menjadi PDI Perjuangan kala itu memang dilakukan di Bali.

Sehingga Bali pun menjadi tempat bersejarah bagi partai yang sudah berusia 46 tahun ini. Hal tersebut juga selalu diutarakan

Ketum PDIP, Megawati Soekarnoputri, memilih di Bali karena sejarah partai berlambang banteng moncong putih itu pertama kali ditorehkan di Bali.

Putri dari Presiden pertama RI Soekarno ini mengatakan dari Bali, tekad partai untuk memperjuangkan dan membumikan ide, gagasan, pemikiran dan cita-cita bapak bangsa Bung Karno.

Katanya, Mega selaku Presiden RI kelima itu menambahkan, Bali tidak hanya menjadi tiang penyangga kekuatan partai.

Karena, di Pulau Dewata inilah aksara api kesejarahan partai dituliskan. Aksara kesejarahan berwarna merah membara, yang justru terlihat semakin terang, ketika rintangan kegelapan menghadang.

Sumber: PojokSatu

Select Category

Cloud Labels